|
Tersebutlah sebuah kerajaan yang makmur dan masyhur rajanya
lagi luas kekuasaanya. Ia memiliki dua orang istri, yang satu mengembara
bersama dua orang putranya sedangkan putra yang lainya tinggal di
istana. Dan istri raja yang satunya lagi tinggal di istana juga. Namun
pada suatu ketika sang raja meninggal dunia.
Setelah di tinggal oleh Sang Raja maka Sang Ratu kembali
lagi ke keraton untuk menuntut haknya demi masa depan anak-anaknya, Sang
Ratu sendiri sangat banyak putranya. Setelah sekian lama mengembara guna
menghidupi putra tanggunganya. Sebenarnya sebelum di tinggal oleh sang
raja, Sri Ratu telah menikah lagi dengan seorang begawan dalam pengembaraanya.
Sedangkan istri raja satunya kembali ke kampungnya.
Namun kemudian kerajaan tersebut di timpa prahara, yang
mengakibatkan keraton hancur lebur nyaris tanpa sisa. Prahara ini berawal
dari perebutan keraton oleh para putra. Semuanya merasa berhak atas tanah
keraton. Persengketaanpun tak terhindarkan. Sang begawan sampai-sampai
hampir di bunuhnya oleh putra kedua yang bernama Panji Kumandang, yang
menganggap Sang Begawan tidak mau menuruti segala kehendaknya. Padahal
Ia dan Ibu Suri sudah habis-habisan menjual tanah keraton guna memenuhi
segala keinginanya. Tanah keraton yang tinggal sedikit hendak di ambil
pula, untung saja bertobat juga akhirnya. Sementara putra terakhir raja
yang bernama Raden Widayat masih kecil yang tidak tahu akan masalah adanya.
Namun sang begawan adalah orang yang bijaksana, Ia rela
pergi mengembara lagi meninggalkan keraton demi menghindari perpecahan
di dalam keraton. Yang di pikirkanya hanyalah Raden Widayat, meskipun
bukan anaknya sendiri tetapi ia sangat menyayanginya ibarat putranya sendiri.
Siang malam ia selalu merindukanya. Malang tak dapat di cegah untung tak
dapat di jemput karena ia tak dapat bertemu lagi dengan putra raja
tersebut.
Sementara itu situasi di keraton semakin memanas tanah
warisan raja yang hanya tinggal sedikit masih saja harus menjadi rebutan.
Pada suatu malam terjadi serangan mendadak yang di lakukan oleh orang
yang tidak senang terhadap raja hingga akhirnya kerajaan hancur lebur.
Dan berlakulah apa yang di sebut Shirna Ilang kertaning Bumi, yaitu tenggelamya
suatu kerajaan yang besar, yang pernah terjadi pada kerajaan Majapahit.
Kini keluarga raja sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Sang Ratu sangat
bersedih hati mendengar dan mengalami hal itu. Lalu ia bertekad bulat
hendak mengembara lagi dengan niat ingin membangun keraton kembali untuk
masa depan putra-putranya.
Lain Ibu Suri lain pula putranya jika Ibu Suri memilih
mengembara, maka putra keempatnya yang bernama Pangeran Sambungnyawa lebih
memilih untuk berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain, lalu ia
memilih mendirikan tempat tinggal sendiri di tengah hutan bersama istrinya.
Sebenarnya istrinya adalah putri ratu seberang yang sedang merantau.
Dengan rendah hati ia rela hidup bersama sang pangeran itu di tengah hutan.
Di lain tempat ada putra raja nomor lima yang bernama
Panji Umbaran juga lebih memilih hidup sebagai pengembara, dalam pengembaraanya
ia tidak hanya keluar masuk hutan tetapi juga menjelajahi berbagai negeri
hingga banyaklah pengalaman yang di dapatnya. Ia hanya setahun sekali
saja mengunjungi saudara-saudaranya.
Lain lagi dengan putra pertama raja yang bernama Raden
Makmur yang lebih suka bersenang-senang daripada bersusah payah membangun
kerajaan. Tetapi ia masih punya rasa belas kasih terhadap sesama sehingga
itulah yang di hargai oleh Raden Widayat.
Sementara putra raja ketiga yang bernama Raden Rupa janaka
nasibnya semakin menyedihkan, hampir-hampir ia terlantar andai tidak pintar-pintar
berbuat.
Sedangkan Raden Widayat sendiri kini ikut saudaranya
yakni Pangeran Sambungnyawa di tengah hutan. Dan semakin lama Raden
Widayat semakin dewasa. Ia sendiri sudah mengetahui segalanya. Dan ia
berniat hendak menjadi pertapa, karena ia masih keturunan pertapa, selain
itu ia merasa cocok karena melihat bertapa sangat sesuai dengan apa yang
di alami selama ini. Tetapi di cegah oleh saudaranya karena ia merupakan
masa depan negara, harapan kerajaan, yang di harapkan kelak bisa kembali
membangun kerajaanya, mengabdi pada negara dan
|